IC 78XX / 79XX sebagai Penstabil pada Regulator / Power Supply

thumbnail

Artikel berikut ini tentang rangkaian elektronik yaitu seputar penggunaan IC 78XX / 79XX sebagai Penstabil pada Regulator. Istilah regulator sama dengan power supply seperti pada materi power supply dengan IC atau  power supply dengan dioda biasa Komponen ini jika kita lihat sepintas IC ini mirip sekali dengan Transistor, ternyata ketika kita melihat kode di badannya akan tertulis 78XX atau 79XX. IC 78XX atau 79XX berfungsi agar kita bisa mendapatkan tegangan yang diinginkan, IC 78XX untuk tegangan positif dan 79XX untuk tegangan negatif dalam sistem regulator tegangan. 

Bentuk Fisik IC 78XX dan IC 79XX

Maksud dari “XX” di IC adalah tegangan yang dihasilkan contohnya
·       IC 7805 untuk menstabilakn tegangan DC +5 Volt
·       IC 7809 untuk menstabilakn tegangan DC +9 Volt
·       IC 7905 untuk menstabilakn tegangan DC -5 Volt
·       IC 7909 untuk menstabilakn tegangan DC -9 Volt
Dalam penggunaan IC 78XX atau 79XX terdapat beberapa karakteristik yang harus diperhatikan diantara nya Regulation Voltage, Maximum Current, Minimum Input Voltage contohnya :

Type Number
Regulation Voltage
Maximum Current
Minimum Input Voltage
78L05
+5V
0.1A
+7V
78L12
+12V
0.1A
+14.5V
78L15
+15V
0.1A
+17.5V
78M05
+5V
0.5A
+7V
78M12
+12V
0.5A
+14.5V
78M15
+15V
0.5A
+17.5V
7805
+5V
1A
+7V
7806
+6V
1A
+8V
7808
+8V
1A
+10.5V
7812
+12V
1A
+14.5V
7815
+15V
1A
+17.5V
7824
+24V
1A
+26V
78S05
+5V
2A
+8V
78S09
+9V
2A
+12V
78S12
+12V
2A
+15V
78S15
+15V
2A
+18V


Lebih lengkapnya karakter IC ini bisa dibaca di datasheet nya.

Contoh : Regulator 15V

Di bawah ini adalah contoh sedehana rangkaian Power Supply DC 5 Volt menggunakan IC 7815. Dengan regulator tegangan 5 volt ini, berapapun input AC yang masuk akan dikonversi menjadi tegangan output DC stabil 5 Volt. Tentu saja tegangan input harus dalam batas maksimum spesifikasi yang diperbolehkan.
  
Power Supply dengan IC 78xx
Gambar:Rangkaian Regulator 15V

Cara Kerja rangkaian
Tegangan AC 220 V/ 240V dari PLN diturunkan tegangan nya oleh Transformator (fungsi trafo adalah menaikkan dan menurunkan tegangan). Pada rangkaian diatas tegangan diturunkan menjadi 12 Volt AC. Tegangn 12V AC ini kemudian disearahkan(diubah menjadi tegangan DC) dengan 4 buah Dioda (Rangkaian Dioda Bridge) 1N4001 menjadi tegangan searah 12 Volt s/d 16 Volt.

Tegangan DC yang dihasilkan  belum benar-benar DC (maksudnya masih terdapat ripple AC dengan frekwensi sesuai input dari PLN (sekitar 50-60 Hz)). Maka digunakanlah 2 buah kondensator yang berfungsi memfilter dan memperkecil ripple AC sehingga makin mendekati grafik tegangan DC. Kondensator yang digunakan bernilai 4700uF dan 100nF.

Untuk merubah tegangan menjadi 5V diperlukan IC regulator 7815 yang berfungsi untuk menstabilkan tegangan output menjasi 5 Volt DC. Ripple AC yang masih ada di filter kembali melalui dua Condensator 100nF dan 1uF.

Jadi dari tegangan AC 220V/240V dari PLN bisa diubah menjadi tegangan DC 15V oleh rangkaian ini. 

Nah, sudah tahukan manfaat IC 78XX / 79XX sebagai Penstabil pada Regulator ? Semoga bermanfaat bagi rekan guru sekalian.. Selamat mengajar..
Judul: IC 78XX / 79XX sebagai Penstabil pada Regulator
Rating: 10 out of 10 based on 24 ratings. 5 user reviews.
Semoga artikel IC 78XX / 79XX sebagai Penstabil pada Regulator ini bermanfaat bagi sesama blogger mari saling menghargai.

Instalasi speaker aktif lengkap

thumbnail
Yuk simak video tutorial cara melakukan instalasi speaker aktif lengkap dari awali sampai akhir

Merakit dan Menganalisis Rangkaian Flip Flop dengan variasi Elko

thumbnail
Rangkaian flip flop adalah rangkaian yang paling sederhana dengan memanfaatkan resistor, elco transistor fcs 9013 dan led. Dianalisis bagaimana respon lampu led dengan pergantian elko misalnya 220uF, 100uF, dan lain.

Berkreasi dengan LED dengan Membuat Senter LED

thumbnail
Berkreasi dengan LED dengan Membuat Senter LED untuk saat ini memang menjadi lampu paling trendi, cahaya terang dengan warna putih yang dihasilkannya memang menjadi isu di masa depan untuk menggunakan peralatan rumah yang mewajibkan ramah lingkungan, biak berupa bahan dasar maupun setelah masa pakai habis. LED sendiri termasuk dalam jenis dioda semi konduktor yang hingga saat ini banyak digunakan di dunia elektronika, terutama digunakan sebagai indikator. 

Dan seiring dengan perkembangan waktu, kini LED banyak digunakan sebagai penerangan pengganti lampu neon maupun lampu pijar yang membutuhkan daya yang cukup besar. Selain dinilai lebih awet, daya yang dibutuhkan LED jauh lebih kecil sehingga sangat hemat terhadap penggunaan energi listrik.

Rangkaian Senter LED
Rangkaian Senter LED
Berbeda halnya dengan lampu pijar ataupun lampu neon, LED memiliki kecenderungan plorarisasi yang memiliki kutub positif dan kutub negatif, sehingga apabila ingin menghidupkan lampu LED harus diberi arus maju (forward). Pada rangkaian senter LED ini, apabila diberi arus terbalik (reverse) maka chip yang terdapat di dalam LED tidak akan mengeluarkan emisi cahaya, bahkan apabila tegangan terlalu besar akan menyebabkan senter LED tersebut akan rusak. 
tonton juga : 
menghitung hambatan total campuran

Tak hanya itu, walaupun LED diberikan arus maju akan tetapi arusnya terlalu besar maka LED juga akan cepat rusak. Maka dibutuhkan tahanan (resistor) untuk membatasi arus. Setiap warna pada LED memiliki karakteristik tersendiri, seperti besarnya drop tegangan dan arus yang dibutuhkan untuk membuat chip yang terdapat di dalam LED menghasilkan emisi cahaya.

Semakin tinggi terang yang dihasilkan oleh jenis LED, maka semakin besar pula drop tegangan dan arus yang dibutuhkannya. Karena perbedaan karakteristik itulah, maka membuat rangkaian seri agar LED menyala dengan normal. Namun cukup sulit, pasalnya besarnya cahaya yang dihasilkan akan mengalami perbedaan, bahkan pada setiap bagian lampu LED dapat tidak menyala atau redup. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, LED yang berwarna beda harus dipasang secara paralel dengan resistor pembatas yang disesuaikan dengan kebutuhan arus pada LED. Demikian info mengenai rangkaian senter LED kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi Anda semua. Baca juga rangkaian menarik lainnya, seperti Merakit Bel Pintu Polyponik.

Kannibal Multitester Rusak jadi Berfungsi Lagi!

thumbnail
Perbaikan sebenarnya hanya memanfaatkan multitester yang lama tetapi masih bisa dimanfaatkan karena tidak rusak fatal. Nah langsung aja tonton videonya.

Berkreasi dengan Lampu Hias

thumbnail
Berkreasi Lampu Hias untuk kali ini akan membahas mengenai pembuatan rangkaian lampu hias berjalan. Lampu hias berjalan sendiri merupakan sebuah rangkaian elektronika yang sering dijadikan berbagai hiasan. Pada dasarnya, samua lampu hias menggunakan prinsip kerja yang sama dengan lampu berjalan pada umumnya, yaitu memanfaatkan kondisi keluaran yang bergantian atau shift register, sehingga dengan kondisi tersebut dapat dibuat kombinasi yang cukup bervariasi antara lampu yang satu dengan yang lainnya. Sebenarnya untuk membuat rangkaian ini sangatlah mudah, Anda tak perlu berpikir keras untuk menganlisa kerja pada rangkaian untuk menghasilkan hasil yang maksimal.
Rangkaian Lampu Hias
Rangkaian Lampu Hias
Yang dibutuhkan pertama kali adalah rangkaian penghasil sinyal clock dan juga rangkaian penghasil keluaran atau sift register yang bergantian. Anda dapat menggunakan oscilator transistor atau dapat juga menggunakan rangkaian astable IC 555 sebagai penghsil sinyal clock. Untuk mendapatkan keluaran yang memiliki logika bergilir, dapat juga menggunakan IC 4017 yang memang paling sering digunakan dalam rangkaian lampu hias berjalan. IC 4017 sendiri memiliki 10 keluran yang tercacah secara bergiliran, yaitu mulai dari O0 (pin 3) hingga O9 (pin 11).

Rangkaian lampu hias berjalan ini menggunakan sepuluh buah lampu led yang digunakan sebagai indicator keluaran. Untuk cepat tidaknya kedipan lampu ditentukan oleh nilai dari R1, C1 serta VR1. Semakin besar nilai tersebut, maka akan semakin panjang jangka waktu dan begitu pula sebaliknya. Keluaran dari IC 4017 ini memiliki supply arus yang terbatas sehingga harus ditambahkan dengan rangkaian driver sebagai switching pada arus beban yang lebih besar. Selain itu, pada rangkaian lampu hias ini, rangkaian driver tersebut bisa menggunakan transistor, relay maupun SCR.

Apabila menggunakan SCR, maka terlebih dahulu menyearahkan supply PLN 220 volt dengan menggunakan rangkaian penyearah, selain itu dapat pula menggunakan dioda 4007 sebanyak empat buah untuk membuat rangkaian penyearah tersebut. Namun apabila menggunakan relay, maka tidak perlu menyearahkan dari tegangan jala-jala 220 volt. Demikian sedikit ulasan mengenai rangkaian lampu hias khususnya lampu hias jalan, semoga dapat menginspirasi Anda. Baca juga rangkaian menarik lainnya, seperti Merakit Bel Pintu Polyponik, Rangkaian Penguat Daya, membuat seven segmen sendiri dan Skema Rangkaian TV.

Merakit Bel Pintu Polyponik

thumbnail
kali ini menggunakan bel pintu polyponik, dimana skema yang digunakan berupa rangkaian elektronik berbentuk bel yang dapat menghasilkan atau mengeluarkan suara pada saat bel ditekan. Bunyi yang yang dihasilkan tersebut dibangkitkan oleh multivibrator 01-02. Untuk multivibrator ini dikendalikan oleh register IC1. Untuk keperluan IC1 tersebut, maka jalan keluar dari IC1 harus dihubungkan pada multivibrator melalui potensiometer P1 hingga P4 serta dioda D1 hingga D4. Register akan segera melangsungkan informasi yang diterima pada jalan masuk D saat berlangsungnya tebing negatif dari bunyi bel (clock impulse), maka secara berurutan multivibrator dikemudikan melalui P1 hingga P4.

Nantinya D1 hingga D4 akan berguna untuk mengisolasi jalan keluar pada saat jalan keluar bertaraf rendah atau nol (0). Bunyi- bunyi bel bagi register dihasilkan oleh isolator yang dibangun dengan NAND 3 dan NAND 4. Sedangkan kondensator-kondesator C5 dan C6 menentukan periode atau waktu (jarak antara satu nada dengan nada berikutnya). Apabila pada rangkaian bel pintu saklarnya dipencet, maka flip flop (pintu NAND 1 dan NAND 2) diset atau dihidupkan, dan osilator (NAND3 dan NAND 4) dinyalakan.
Rangkaian Bel Pintu
Rangkaian Bel Pintu

Pada saat pertama kali dinyalakan, jalan masuk D dari IC1 terdapat sinyal satu (1) karena Q3 tersumbat. Bunyi bel pertama akan menggeser taraf (1) tersebut ke jalan keluarnya, maka katoda D1 memperoleh potensial positif, sehingga Q3 menghantar hal ini menyebabkan jalan masuk D berubah menjadi nol (0) sehingga untuk selanjutnya hanya ada satu (1) yang bergeser pada register geser IC1. Pada rangkaian bel pintu polyponik ini, pada saat denyut bel yang ke empat (4), maka jalan keluar 9 menjadi 1, dan 8 menjadi 0. Maka flip-flop (NAND 1 dan NAND 2) di reset atau dilepas dan osilator (NAND 3 dan NAND 4) dimatikan.

Kuat tidaknya bunyi dapat di atur dengan R12, dan besar R12 dapat dicoba melalui percobaan. Namun jumlah perlawanan pengeras suara dan juga R12 jangan sampai kurang dari 8 ohm. Nada-nada nantinya yang keluar (mi-do-re-sol) dapat diganti urutannya dengan cara mengubah potensio-potensio P1 dan juga P4. D5 serta D6 bekerja agar tebing-tebing denyut nada menjadi curam, dengan begitu nada yang dihasilkan akan terasa lebih jernih. Sedangkan C3 dan C4 berguna untuk mencegah timbulnya osilasi liar. Demikian sedikit info mengenai rangkaian bel pintu kali ini, semoga dapat menambah wawasan kita. Baca juga artikel menarik lainnya, seperti Rangkaian Radio Control, Rangkaian Cara Membuat Led Flip-Flop dengan IC 555, Rangkaian membuat seven segmen sendiri dan Rangkaian Senter LED.

Transistor Sebagai Saklar: Karakteristik area cut-off

thumbnail
Input basis dan basis dibuat ground atau V = 0 volt
Tegangan basis ke emitor ( Vce < 0.7 volt)
Arus yang lewat kolektor = 0 (IC=0 volt)
Tegangan keluaran (Vout) = Vce = Vcc = 1
Gambar tersebut merupakan skema rangkaian kerja dari transistor sebagai saklar. Arus masuk dari kaki basis (Ib) pada transistor adalah nol dan arus keluaran pada kaki kolektor (Ic) juga adalah nol, dan tegangan maksimum berada di kaki kolektor (Vce), kondisi di atas membuat arus tidak bisa memasuki komponen ini, oleh karena itu kondisi ini adalah dimana transistor berada dalam kondisi “full-off” atau kondisi tidak aktif secara penuh. Jadi bisa kita definisikan bahwa kondisi di atas adalah kondisi dimana transistor sebagai saklar berada dalam area kerja cut-off atau tidak aktif secara penuh.